Tuesday, December 27, 2011

Ketika Sang Fisikawan Jatuh Cinta

Ada kalanya ketika seorang fisikawan (bukan gue) tidak hanya memikirkan rumus-rumus yang ruwet. Fisikawan juga manusia, mempunyai hati juga perasaan. Mungkin perasaan sedih, senang, bahagia, cemburu, bahkan cinta. Adapun ketika ia jatuh cinta, iapun membuat surat cintanya berkaitan dengan fisika kepada lawan jenisnya, mungkin karena hatinya terlalu menyatu dengan rumus-rumus fisika yang ada di otaknya sehingga surat cinta tersebut akan menjadi seperti ini :

Archimedes dan Newton tak akan mengerti Medan magnet
yang berinduksi di antara kita
Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2
Ah tak sebanding dengan momen cintaku

Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku
Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa
maksimum
Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa
Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro…

Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat
aphelium
Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan
hatiku
Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih
Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak
terbatas

Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi
Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh
tetapan gaya
Energi kinetik cintaku = 1/2mv^2
Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi
hukum kekekalan di antara kita

Lihat hukum cinta kita
Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu
Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang
sempurna
Dengan inersia tak terhingga
Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya

Inilah resultan momentum cinta kita…

No comments:

Post a Comment